Jumat, 01 November 2013


BERITAJAKARTA.COM — 01-11-2013 18:46
Polisi akhirnya melakukan pembubaran paksa terhadap ribuan buruh yang melakukan aksi unjuk rasa di depan Balaikota DKI Jakarta, Jumat (1/11) malam. Setidaknya tiga unit water canon dari Polda Metro Jaya dikerahkan untuk memukul mundur pendemo.

Selepas Maghrib, petugas kepolisian yang dilengkapi tameng, tongkat serta helm langsung membentuk barikade untuk mendorong mundur massa buruh. Namun, aksi petugas kepolsian sepertinya tidak terlalu ditanggapi para buruh. Mereka justru duduk sambil melantunkan shalawat.

Sebelum membubarkan aksi demo, sempat dua kali dilakukan negosiasi. Pertama, saat para buruh bernegosiasi dengan Jokowi. Lalu, negosiasi dilanjutkan sekitar pukul 17.30 dengan anggota kepolsian. Namun, massa buruh tetap menolak bubar sebelum tuntutan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2014 sebesar Rp 3,7 dikabulkan.

Saat ini, pihak kepolisian dan perwakilan buruh kembali melakukan negosiasi. Tetapi belum menemukan kesepakatan. Pembubaran paksa ini juga sesuai dengan aturan karena menurut undang-undang yang berlaku, para pendemo harus sudah membubarkan diri selepas pukul 18.00.

"Menurut undang-undang waktunya sudah habis sampai pukul 18.00. Maka harus membubarkan diri," kata I Gede Hendra, salah satu anggota kepolisian dari Polda Metro Jaya, Jumat (1/11) malam.

Pantauan beritajakarta.com, mobil water canon dan para anggota polisi dari Polsek Gambir, Polres Jakarta Pusat dan Polda Metro Jaya pun terus merangsek mendorong para buruh supaya bersedia meninggalkan lokasi demo.
Tetapi para buruh tetap memilih bertahan dan enggan meninggalkan tempat dilaksanakannya aksi demo tersebut "Hari ini nasib kita ditentukan, kita tidak akan mundur sedikit pun," kata salah satu orator buruh dari kendaraan pengeras suara.

Hingga berita ini diturunkan, buruh masih bertahan dan polisi terus berusaha mendorong para buruh agar bersedia membubarkan diri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar